Dalam ilmu tajwid dan qiraat, terdapat sejumlah bacaan khusus yang dikenal dengan istilah bacaan gharib. Istilah ini merujuk pada cara membaca ayat Al-Qur’an yang memiliki karakteristik unik dan berbeda dari bacaan yang umum dipraktikkan. Bacaan tersebut tetap berasal dari riwayat yang sahih dan diwariskan melalui sanad yang bersambung hingga Rasulullah SAW.
Bagi sebagian orang, bacaan gharib mungkin terdengar asing karena tidak dijumpai di banyak ayat. Namun, mempelajarinya merupakan bagian dari upaya menjaga keaslian cara membaca Al-Qur’an sebagaimana yang diajarkan oleh para imam qiraat.
Apa yang Dimaksud dengan Bacaan Gharib?
Secara bahasa, kata gharib berarti asing atau tidak biasa. Dalam konteks ilmu qiraat, bacaan gharib adalah bentuk bacaan yang memiliki metode pelafalan khusus sehingga memerlukan penjelasan dan latihan tersendiri untuk membacanya dengan benar.
Pada Qiraat Ashim riwayat Hafs, terdapat beberapa jenis bacaan gharib yang dikenal luas dan masih dipelajari hingga saat ini. Setiap jenis memiliki aturan, contoh ayat, dan tujuan pelafalan yang berbeda.
1. Imalah
Imalah merupakan bacaan yang mengubah kecenderungan bunyi harakat fathah menjadi mendekati kasrah sehingga terdengar seperti bunyi “e”. Teknik ini tidak diterapkan pada semua kata, melainkan hanya pada lafaz tertentu yang memang diriwayatkan demikian.
Salah satu contoh terkenal terdapat pada Surat Hud ayat 41:
وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا
Pada lafaz مَجْرَاهَا, sebagian qiraat membacanya dengan kecenderungan bunyi imalah sehingga terdengar mendekati “majreehaa”.
2. Isymam
Isymam adalah cara membaca dengan memberikan isyarat bunyi dhammah melalui gerakan bibir tanpa mengubah suara secara penuh. Teknik ini lebih mudah diamati secara langsung daripada dijelaskan melalui tulisan.
Contohnya terdapat pada Surat Yusuf ayat 11:
قَالُوا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لَا تَأْمَنَّا عَلَى يُوسُفَ
Pada lafaz لَا تَأْمَنَّا, pembaca memonyongkan bibir sebagaimana ketika mengucapkan dhammah sebagai bentuk isymam.
3. Saktah
Saktah berarti berhenti sejenak ketika membaca Al-Qur’an tanpa mengambil napas, kemudian melanjutkan bacaan berikutnya. Jeda yang dilakukan sangat singkat namun memiliki aturan yang jelas.
Beberapa tempat saktah dalam riwayat Hafs antara lain:
- Surat Al-Kahfi ayat 1–2 pada lafaz عِوَجًا ۜ قَيِّمًا.
- Surat Yasin pada lafaz مَنْ مَرْقَدِنَا ۜ هَذَا.
- Surat Al-Qiyamah pada lafaz مَنْ ۜ رَاقٍ.
- Surat Al-Muthaffifin pada lafaz بَلْ ۜ رَانَ.
Karena jeda dilakukan tanpa bernapas, pembaca perlu melatih penguasaan napas agar bacaan tetap lancar.
4. Tashil
Tashil adalah cara melafalkan hamzah dengan suara pertengahan antara hamzah yang jelas dan alif yang ringan. Bacaan ini membuat pengucapan menjadi lebih mudah tanpa menghilangkan karakter huruf.
Salah satu contohnya terdapat pada Surat Fussilat ayat 44:
ءَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ
Pada lafaz tersebut, hamzah dibaca dengan metode tashil sehingga terdengar berbeda dibandingkan bacaan biasa.
5. Naql
Naql adalah perpindahan harakat dari satu huruf ke huruf sebelumnya sehingga menghasilkan perubahan cara pengucapan. Kaidah ini hanya berlaku pada lafaz-lafaz tertentu sesuai riwayat qiraat.
Contoh yang sering disebutkan terdapat pada Surat Al-Hujurat ayat 11:
بِئْسَ الْاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ
Penerapan naql membuat pelafalan menjadi berbeda dibandingkan bacaan standar yang umum dikenal.
6. Badal
Badal berarti penggantian suatu huruf dengan huruf lain dalam kondisi tertentu berdasarkan riwayat qiraat yang sahih. Pergantian ini bukanlah perubahan isi Al-Qur’an, melainkan variasi cara membaca yang telah diwariskan oleh para ulama qiraat.
Beberapa bentuk badal yang dikenal antara lain:
- Pergantian huruf hamzah (ء) dengan ya (ي).
- Pergantian huruf shad (ص) dengan sin (س) pada lafaz tertentu.
Contohnya dapat ditemukan pada beberapa ayat seperti Surat Al-Ahqaf ayat 4 dan Surat Al-Baqarah ayat 4.
7. Mad dan Qashr
Mad berarti memanjangkan bacaan, sedangkan qashr berarti memendekkannya. Dalam beberapa riwayat qiraat, terdapat lafaz-lafaz yang dapat dibaca dengan panjang tertentu atau dipendekkan sesuai ketentuan yang berlaku.
Contohnya antara lain pada lafaz:
- أَنَا
- لَكِنَّا
- الظُّنُونَا
- الرَّسُولَا
- قَوَارِيرَا
Perbedaan panjang pendek bacaan tersebut menjadi salah satu ciri khas dalam ilmu qiraat dan menunjukkan kekayaan tradisi pelafalan Al-Qur’an.
Ringkasan Macam-Macam Bacaan Gharib
| No | Jenis | Keterangan Singkat |
|---|---|---|
| 1 | Imalah | Fathah dibaca condong ke bunyi kasrah. |
| 2 | Isymam | Gerakan bibir menyerupai dhammah tanpa suara penuh. |
| 3 | Saktah | Berhenti sejenak tanpa mengambil napas. |
| 4 | Tashil | Hamzah dibaca di antara hamzah dan alif. |
| 5 | Naql | Pemindahan harakat pada lafaz tertentu. |
| 6 | Badal | Pergantian huruf sesuai riwayat qiraat. |
| 7 | Mad dan Qashr | Variasi pemanjangan atau pemendekan bacaan. |
Penutup
Bacaan gharib menunjukkan bahwa ilmu membaca Al-Qur’an memiliki kedalaman dan kekayaan yang luar biasa. Meskipun sebagian besar jenis bacaan ini hanya ditemukan pada ayat-ayat tertentu, mempelajarinya dapat membantu umat Islam memahami warisan qiraat yang telah dijaga selama berabad-abad.
Bagi pemula, mempelajari bacaan gharib sebaiknya dilakukan dengan bimbingan guru yang memiliki kompetensi di bidang tajwid dan qiraat. Dengan demikian, setiap kaidah dapat dipahami dan dipraktikkan secara tepat sesuai riwayat yang sahih.